Agung Widiantoro Dorong Revitalisasi Sekolah, Pendidikan Brebes Harus Aman dan Nyaman

Ketua Komisi X DPR RI Dr H Agung Widiantoro, S.H., M.Si. menyampaikan pemaparan dalam workshop pendidikan, Sabtu (12/9/2026).(Foto Andrian igong)

BREBES, Brebesinfo.com – Upaya meningkatkan kualitas pendidikan di Kabupaten Brebes terus didorong. Salah satunya melalui Workshop Pendidikan Revitalisasi Satuan Pendidikan bertema “Membangun Sekolah Nyaman, Aman dan Berkualitas”.

Kegiatan tersebut digelar di Teras Padi, Paguyangan, Sabtu (12/9/2026), bersama Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Ketua Komisi X DPR RI Dr H Agung Widiantoro, S.H., M.Si., menjadi salah satu narasumber utama dalam kegiatan tersebut.

Selain Agung, workshop juga menghadirkan Arif Budiyanto dari Direktorat SMP, dr Dewa Taruna Nugraha selaku praktisi pendidikan, Dr Maylane Boni Abdilah, S.Kom., MT, serta Eko Susanto, S.E., M.Si.

Kegiatan diikuti sekitar 200 peserta dari enam kecamatan di Kabupaten Brebes. Peserta berasal dari Salem sebanyak 23 orang, Paguyangan 27 orang, Tonjong 45 orang, Bumiayu 64 orang, Bantarkawung 21 orang dan Sirampog 20 orang.

Agung Widiantoro menekankan, revitalisasi satuan pendidikan tidak boleh hanya berorientasi pada pembangunan fisik. Sekolah harus mampu menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman dan mendukung perkembangan peserta didik.

“Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi anak-anak untuk belajar. Mereka harus merasa terlindungi dan mendapatkan suasana yang mendukung proses pendidikan,” ujar Agung.

Menurutnya, kualitas sekolah tidak hanya dilihat dari kondisi bangunan, tetapi juga dari lingkungan dan fasilitas yang menunjang kegiatan belajar mengajar.

“Revitalisasi bukan hanya memperbaiki bangunan sekolah, tetapi bagaimana sekolah itu benar-benar menjadi ruang belajar yang layak, aman, nyaman dan mendukung perkembangan anak,” katanya.

Sementara itu, Arif Budiyanto menyampaikan bahwa revitalisasi harus diawali dengan melihat kondisi masing-masing satuan pendidikan. Kebutuhan dan persoalan di setiap sekolah perlu dipetakan agar penanganannya tepat sasaran.

“Revitalisasi harus diawali dengan melihat kondisi satuan pendidikan. Kita identifikasi kebutuhan dan permasalahan yang ada, kemudian menentukan prioritas penanganannya,” ujar Arif.

Ia menambahkan, pembangunan maupun perbaikan fasilitas sekolah harus memberikan dampak langsung terhadap proses pembelajaran.

“Yang dibangun atau diperbaiki harus memberikan dampak langsung terhadap proses pembelajaran. Sekolah harus aman digunakan dan nyaman bagi peserta didik maupun guru,” katanya.

Di bagian akhir, dr Dewa Taruna Nugraha menegaskan bahwa tujuan revitalisasi sekolah tidak berhenti pada bangunan yang terlihat bagus. Sekolah harus menjadi lingkungan yang sehat sekaligus tempat yang membuat anak merasa aman dan diterima.

“Tujuan revitalisasi jangan hanya membuat bangunan sekolah menjadi bagus. Sekolah harus bisa menjadi rumah kedua bagi anak-anak. Mereka harus merasa nyaman, aman dan sehat ketika berada di sekolah,” ujar dr Dewa.

Menurutnya, perhatian terhadap kesehatan anak juga harus menjadi bagian dari lingkungan pendidikan. Sekolah perlu memperhatikan persoalan seperti bullying, stunting, kebersihan serta pemenuhan kebutuhan dasar peserta didik.

“Bullying juga harus menjadi perhatian. Anak-anak harus merasa aman di sekolah, tidak boleh ada tindakan yang membuat mereka takut, tertekan atau merasa tidak diterima,” katanya.

Selain itu, sekolah juga perlu ikut memperhatikan persoalan stunting melalui edukasi dan kepedulian terhadap kesehatan serta tumbuh kembang anak.

“Persoalan stunting juga tidak bisa dilepaskan dari pendidikan. Sekolah bisa menjadi tempat untuk memberikan edukasi tentang kesehatan, gizi dan pola hidup sehat kepada anak-anak,” ujar dr Dewa.

Ia juga mengingatkan sekolah agar memperhatikan ketersediaan air bersih. Menurutnya, air bersih merupakan kebutuhan dasar yang sangat penting untuk menjaga kesehatan dan kebersihan lingkungan sekolah.

“Sekolah harus memperhatikan ketersediaan air bersih. Jangan sampai bangunannya bagus, tetapi kebutuhan air bersih untuk siswa dan guru tidak terpenuhi,” katanya.

Selain air bersih, kondisi ruang belajar juga harus diperhatikan. Ventilasi yang baik diperlukan agar sirkulasi udara di dalam kelas tetap terjaga sehingga siswa dan guru dapat belajar dengan lebih nyaman.

“Ventilasi juga harus diperhatikan. Ruang kelas harus memiliki sirkulasi udara yang baik, karena kenyamanan dan kesehatan anak tidak hanya ditentukan oleh bangunan yang kokoh, tetapi juga kualitas ruang tempat mereka belajar,” ujar dr Dewa.

Menurut dr Dewa, guru juga memiliki peran penting dalam menciptakan sekolah sebagai rumah kedua. Guru diharapkan tidak hanya memperhatikan proses pembelajaran, tetapi juga kondisi peserta didik selama berada di sekolah.

“Bapak dan ibu guru punya peran penting untuk memperhatikan anak-anak. Jangan hanya melihat mereka mengikuti pelajaran, tetapi juga bagaimana kondisi mereka selama berada di sekolah,” ujar dr Dewa.

Dengan demikian, revitalisasi sekolah diharapkan tidak hanya menghasilkan bangunan yang lebih baik, tetapi juga menciptakan lingkungan pendidikan yang aman dari bullying, mendukung kesehatan anak, memperhatikan persoalan stunting, memiliki akses air bersih, sirkulasi udara yang baik dan membuat peserta didik merasa nyaman seperti berada di rumah kedua.

 

Related Posts

Berita Lainnya