Petugas Damkar bersama anggota Polsek dan koramil Bantarkawung serta relawan berusaha memadamkan api di salah satu raung kelas SMAN 1 Bantarkawung. Sabtu, (5/9/2026). (Foto Andrian igong)
BREBES, Brebesinfo.com– Kebakaran hebat melanda SMA Negeri 1 Bantarkawung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Sabtu (5/9/2026) sore.
Api diketahui sekitar pukul 16.00 WIB. Kobaran api diduga berasal dari bagian halaman belakang sekolah sebelum merambat ke bangunan ruang kelas.
Petugas yang tiba di lokasi langsung berupaya menjinakkan kobaran api. Sebanyak dua unit mobil pemadam kebakaran dari unsur pemadam kebakaran dan BPBD dikerahkan untuk mempercepat proses pemadaman.
Kobaran api sempat membesar dan merambat ke sejumlah ruang kelas. Sedikitnya enam ruang kelas terdampak dalam kebakaran tersebut.

Dari enam ruang kelas yang terbakar, lima di antaranya mengalami kerusakan parah. Sementara satu ruang kelas lainnya mengalami kerusakan ringan.
Petugas Pemadam Kebakaran Bumiayu, Valdo, mengatakan proses pemadaman sempat menghadapi sejumlah kendala. Salah satunya kondisi angin yang cukup kencang sehingga membuat api lebih mudah merambat.
“Api berasal dari bagian belakang sekolah, kemudian merambat ke bangunan kelas. Ada enam kelas yang terdampak, lima rusak parah dan satu rusak ringan,” kata Valdo di lokasi kejadian.
Menurut Valdo, dua unit mobil pemadam dikerahkan dalam penanganan kebakaran tersebut. Petugas terus melakukan penyemprotan untuk memastikan api tidak kembali membesar.
“Api sudah mulai mengecil, tetapi petugas masih berusaha melakukan pemadaman dan pendinginan agar tidak ada titik api yang kembali menyala,” ujarnya.
Selain angin, jauhnya sumber air juga menjadi persoalan dalam proses pemadaman. Kondisi tersebut membuat petugas harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan pasokan air.

Koordinator Lapangan BPBD Brebes wilayah Bumiayu, Budi Sujatmiko, mengatakan penanganan kebakaran dilakukan secara bersama-sama oleh petugas gabungan.
“Yang terlibat di lokasi ada dari pemadam kebakaran, BPBD, Polsek Bantarkawung, Koramil Bantarkawung dan para relawan. Semuanya bersama-sama membantu proses pemadaman,” kata Budi.
Budi menambahkan, kondisi angin dan keterbatasan sumber air menjadi tantangan tersendiri bagi petugas. Karena itu, keberadaan hidran di wilayah Bantarkawung dinilai sangat dibutuhkan.
“Untuk wilayah Bantarkawung, kebutuhan hidran sangat diperlukan. Ini penting untuk membantu suplai air ketika terjadi kebakaran, sehingga petugas tidak terlalu terkendala mencari sumber air,” ujarnya.
Menurut Budi, hidran bukan hanya dibutuhkan untuk mendukung penanganan kebakaran, tetapi juga sebagai bagian dari kesiapsiagaan menghadapi kondisi darurat di wilayah Bantarkawung.

Hingga berita ini ditulis, petugas gabungan masih berada di lokasi SMA Negeri 1 Bantarkawung. Api sudah mengecil, namun proses pemadaman dan pendinginan masih dilakukan untuk memastikan seluruh titik api benar-benar padam.(*)

















